Petani di Indramayu Terancam Kekeringan Sawahnya

Bupati Indramayu Supandi (tiga kiri depan) saat meninjau salah satu waduk yang berfungsi mengairi areal persawahan. (Dokumentasi Kementerian Pertanian)


INDRAMAYU NEWS - Kementerian Pertanian (Kementan) memantau dan memberikan perhatian khusus terhadap potensi terjadinya kekeringan terhadap lahan pertanian produktif, khususnya sawah agar distribusi air tetap terjaga saat memasuki musim kemarau di Indramayu, Jawa Barat.

"Kami harus selamatkan petani yang sudah menanam padi, kalau memang dibutuhkan penambahan debit karena kondisi di lapangan mengharuskan hal itu, maka kami dukung BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) Citarum untuk bisa menambahkan debit air ke saluran Cipelang yang ke Indramayu,” kata Kepala Badan Karantina Pertanian Kementan Ali Jamil dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Dia merespons positif upaya yang dilakukan oleh Bupati Indramayu Supendi dengan cara turun langsung ke lapangan untuk melihat distribusi air untuk petani dalam beberapa hari terakhir ini.

Sebagai Ketua Tim Penanggung Jawab Upsus Pajale Provinsi Jawa Barat, Ali Jamil sepakat bahwa lahan sawah yang telah ditanami padi harus diselamatkan agar Kabupaten Indramayu tetap menjadi salah satu lumbung padi nasional untuk mendukung ketahanan pangan.

Indramayu sebagai salah satu sentra produksi padi di Jawa Barat, menjadi wilayah yang turut rentan mengalami kekeringan. Mencegah terjadinya kekeringan, Bupati Indramayu Supendi turun langsung mendatangi pengelola Bendung Rentang yang berada di Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan distribusi air benar-benar terlaksana dengan baik dan bisa dinikmati oleh para petani.

“Kondisi debit air terus dipertahankan atau kalau bisa ditingkatkan sampai ke level aman, sehingga air yang terdistribusi ke saluran Cipelang bisa sampai hilir dan nikmati oleh petani yang tengah krisis air,” terang Supendi.

Supendi menambahkan saat ini pihaknya berkomitmen untuk menyelamatkan para petani yang telah tanam padi dan terancam kekeringan terutama yang berada di Kecamatan Kandanghaur, Losarang, dan Gabuswetan.

Ketiga kecamatan ini merupakan daerah terjauh dari saluran Cipelang, sementara air yang ada belum bisa sampai ke tiga kecamatan tersebut.

Saat ini Pemkab Indramayu telah mengeluarkan kebijakan untuk distribusi air yaitu berupa pengelolaan gilir giring distribusi air baku di saluran induk Cipelang terutama pada saluran induk barat untuk musim gadu (MT II) tahun 2019 berupa kebijakan langkah 37 yakni tiga hari untuk BBT 14 ke hulu yang merupakan wilayah Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Cikedung, dan 7 hari BBT 14 ke hilir yang merupakan wilayah PSDA Losarang.

“Kami amankan kebijakan 37 ini, karena hari ini merupakan hari terakhir dari tiga hari untuk BBT 14 ke hulu yang merupakan wilayah PSDA Cikedung. Mulai besok seluruh pintu di BBT 14 kami tutup dan kami gelontorkan ke BBT 14 ke hilir. Jika tetap stabil kami optimis air bisa sampai hilir. Pokoknya air jangan sampai turun debitnya Kami berharap bisa terus dinaikan dari Bendung Rentang ini,” tegas Supendi.

Supendi juga mendatangi saluran induk Cipelang yang berada di Desa Jatisura. Selanjutnya ia menyusuri saluran air tersebut yang tembus ke Desa Amis, Cikedung, Rajasinga, Plosokerep, Kendayakan, Manggungan, dan Rancahan.

Petani yang berada di wilayah Kecamatan Cikedung diharapkan bisa menggunakan air secukupnya, dikarenakan wilayah tersebut paling dekat dengan sumber air dan terlebih dahulu mendapatkan pasokan air.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel